Rabu, 04 Januari 2012

CEDERA SELALU MENDERAKU


 Kapan ya aku bisa terbebas dari cidera ? pertanyaan ini selalu terngiang di benakku. Kaki atau tepatnya lutut kananku sering sekali mengalami cedera. Karena cedera inilah beberapa kali aku terpaksa mundur atau kalah dari turnamen.
 

Asal muasal cedera itu muncul bukan pada saat pertandingan, tetapi justru datang setelah aku latihan. Waktu itu aku masih di Pelatnas. Seingatku dulu, setelah aku latihan beban, aku lanjut latihan stroke, tiba-tiba lutut kananku terasa ngilu. Saat naik tangga ngilu itu tambah terasa. Tak mau berlama-lama dengan cedera, aku langsung berobat. Hasil diagnosa dokter menunjukkan otot ku tidak mengalami masalah. Yang bermasalah justru cairan di dalam lututku semakin berkurang. Jadi tulang lututku saling bergesekan satu sama lain secara langsung. Ini yang menyebabkan lututku terasa ngilu sampai sekarang. Berbagai usaha untuk menyembuhkan cederaku sudah aku lakukan. Sekarang ini aku hanya terapi. Tidak menyembuhkan, tetapi cukup membantu meringankan cederaku.
 
Di setiap turnamen aku selalu harus bisa menahan rasa sakit yang terus menyiksaku. Mungkin karena sudah terbiasa dengan rasa sakit pada lututku, aku akhirnya masih bisa terus mengayunkan raket. Tetapi jika rasa sakit itu tidak tertahankan, terpaksa aku memilih mundur. Seperti pada turnamen Thailand Open Grand Prix 2011 lalu. Aku mundur pada babak kualifikasi. Saat itu aku merasakan sakit yang luar biasa. Lututku bengkak, sampai aku tidak bisa menekuk lututku. Mungkin hal itu dikarenakan aku harus bertanding di babak kualifikasi sebanyak tiga kali dalam satu hari. Jadi cedera di lututku kambuh kembali.Cidera membuatku sering aku merasa frustasi. Tak jarang aku sampai menangis karena frustasi. Aku sedih memikirkan cederaku yang tak pernah hilang dari diriku. Karena cedera ini pula, prestasiku menurun drastis. Aku dari yang bisa menembus olimpiade bahkan sampai bisa meraih medali perunggu,akhirnya harus terpuruk. Sebenarnya ingin aku menumpahkan kesedihanku pada orang tuaku termasuk masalah cederaku. Tapi aku tak bisa. Beruntung aku mempunyai sahabat yang selalu memompa semangatku. Sahabat yang selalu bisa menjadi tempat aku berkeluh kesah akan cideraku. Karena sahabat pula yang membuat ku tegar dan masih bisa berada di lapangan karpet hijau.

Berpikir mundur dari Pelatnas pun tak jarang muncul di benakku. Tetapi niat itu urung terlaksana. Meski beberapa kali sinyal terkena degradasi dari Pelatnas muncul, tetapi batal dilakukan. Karena saat pemberitahuan itu muncul justru prestasi ku kembali naik. Tetapi akhirnya aku membulatkan tekad untuk mundur dari Pelatnas, tempat yang pernah membesarkan namaku. Sedih juga aku harus meninggalkan Pelatnas, tempatku menghabiskan hari-hariku bersama pelatih dan teman-temanku. Tetapi inilah jalan yang harus aku tempuh. Meski tak lagi ada di Pelatnas, aku masih ingin berprestasi .


Sumber:

Kamis, 01 Desember 2011

MERANCANG PROFESI SELANJUTNYA

Semestinya mulai dari sekarang aku sudah mulai memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah aku tidak lagi bermain bulutangkis. Tetapi yang sekarang ingin ku lakukan hanya membahagiakan orang tuaku terlebih dahulu. Puji Tuhan, dengan hadiah yang aku terima dari berbagai kejuaraan dan juga bonus waktu aku mendapat medali perunggu Olimpiade aku mulai bisa membahagiakan mereka. Meski hanya sebuah rumah, tapi aku bahagia bisa membantu mereka. Sisa hadiah sampai saat ini masih aku tabung untuk masa depanku.

Sekiranya nanti aku benar-benar berhenti dari bulutangkis, aku masih menimbang apa yang akan kulakukan. Sempat terlintas pikiranku untuk menjadi pelatih. Menurutku, seorang pelatih harus cakap dalam membimbing dan mengarahkan anak didiknya. Pelatih harus bisa menganalisa permainan dan membuat program latiihan. Dan aku masih harus belajar banyak, jika itu ternyata menjadi pilihanku. Yang jelas sebagai seorang wanita, aku ingin menjadi seorang ibu bagi anak-anakku kelak.  

Mungkin butuh waktu yang panjang buatku untuk berpikir kesana. Butuh pikiran jernih agar aku mantap menentukan arah dan tujuanku. Dan juga butuh masukan dari orang-orang yang dekat denganku untuk memilih arah langkahku. Semoga aku mendapat pilihan yang tepat untuk masa depanku. Ada masukan dari teman-teman?

"MALAYSIA" NEGERI LAIN YANG PERTAMA KU KUNJUNGI

Malaysia menjadi negara pertama yang aku kunjungi. Sebelumnya tidak kebayang juga aku bisa berangkat ke sana. Aku berangkat bersama dengan teman-teman satu klubku dari PB Djarum. Di Malaysia aku bersama teman-teman melakukan latih tanding atau pertandingan persahabatan dengan salah satu klub disana.

Perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta ke Kuala Lumpur tidak terlalu lama. Kurang lebih sekitar dua jam. Tidak terlalu membosankan juga sih, karena tidak terlalu lama dalam pesawat. Di dalam pesawat aku menghabiskan waktu mendengarkan musik, ngobrol dengan teman-teman. Tapi.. Sesekali aku tertidur juga sih hehehe.

Sesampainya di Kuala Lumpur, kita semua harus mengikuti pemeriksaan standar. Aku dan teman-teman di minta menunjukkan passport yang aku sudah bawa sejak dari Indonesia. Oleh petugas imigrasi aku sempat ditanya tujuan selama aku berada di Malaysia. Karena bahasa mereka kurang lebih sama dengan bahasa kita, aku tidak terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan dan bercakap-cakap dengan petugas imigrasi. Mereka semua ramah-ramah seperti orang-orang Indonesia. O iya.. Di dalam pesawat, kita semua juga harus mengisi daftar pertanyaan yang di berikan oleh petugas pramugari. Di dalam daftar pertanyaan juga menanyakan tujuan serta dimana aku akan menginap. Pertanyaan yang sama seperti yang di tanyakan oleh petugas imigrasi.

Akhirnya.. aku bisa pergi ke luar negeri juga hahahahaha..

PERSIAPAN PERTAMA KALI KE LUAR NEGERI

Seingatku, pertama kali aku pergi ke luar negeri itu, waktu aku di ikut sertakan pada pertandingan persahabatan antara klub PB Djarum dengan klub dari Malaysia. Tapi aku lupa nama klubnya apa. Maaf ya teman-teman.. aku lupa, soalnya udah lama banget hehehe.. Yang aku cuma ingat aku berangkat ke Malaysia.







Seingatku sih persiapanku untuk keberangkatanku ke luar negeri yang pertama kali tidak terlalu beda dengan persiapan kalo aku berangkat bertanding di dalam negeri. Aku bawa baju secukupnya saja, karena seingatku pertandingannya juga tidak terlalu lama. Juga aku tidak membawa makanan apapun, karena seperti yang teman-teman juga tahu bahwa menu makanan Malaysia tidak terlalu beda dengan makanan Indonesia. Di sana makanan yang mereka makan sama dengan kita. Mereka makan nasi sebagai makanan utama dan juga masakan Malaysia tidak jauh beda cita rasanya dengan Indonesia. Jadi kalau aku lapar, aku bisa membeli makanan yang ada di Malaysia.   

Selasa, 18 Oktober 2011

PENGALAMANKU BERGABUNG DI PB DJARUM

Maria Kristin
Aku bergabung dengan PB Djarum pada tahun 1998. Saat aku masih berumur 13 tahun dan telah berada di kelas 2 SMP. Bapakku yang mengarahkan dan mendaftarkanku supaya aku bisa masuk ke PB Djarum. Bapak juga yang mengurus semuanya dari pemberangkataku ke PB Djarum sampai penginapan selama aku mengikuti audisi. Sebenarnya aku sudah tahu mengenai PB Djarum pada tahun 1994. Waktu itu aku pernah ikut pada saat pembinaan di PB Djarum.

Seperti halnya dengan atlet yang lain, akupun harus melalui audisi yang di selenggarakan oleh PB Djarum. Aku datang ke Kudus, mendaftarkan diri dan ikut dalam proses audisi, termasuk juga pada saat aku harus bertanding dengan sesama peserta audisi lainnya.
Aku sempat gak yakin dengan kemampuanku pada saat audisi. Karena semua peserta yang ikut audisi semuanya bagus. Proses penerimaanku dari Djarum pun aku tidak tahu persis. Seingatku, ada sepucuk surat datang dari PB Djarum yang di terima oleh bapakku. Mungkin kira-kira isinya aku lolos audisi kali ya. Karena seterusnya bapakku kembali sibuk untuk mengurus segala keperluanku untuk berangkat ke Kudus, kota tempat aku barlatih. Bapak memang sangat perhatian denganku, karena memang ini menjadi salah satu impian bapakku supaya aku bisa masuk klub PB Djarum.



sumber:

http://pbdjarum.org/blogminton/detil/42/pengalamanku-bergabung-dengan-pb-djarum