Jumat, 08 Juni 2012

PETISI MANTAN ATLET LINTAS GENERASI


Dunia perbulutangkisan Indonesia saat ini tengah menangis. Tak hanya gagal merebut piala Thomas dan Uber, Indonesia juga menorehkan prestasi terburuk dengan gagal di perempat final. Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Taufik Hidayat risau dalam ketidakkompakkan dalam bulu tangkis Indonesia saat ini. ia menyatakan nasionalisme pebulu tangkis sekarang kurang. Mereka mengatakan siap ketika akan bertanding untuk negara. Kesiapan pemain sebenarnya bergantung pada saat pembibitan.

Menurut Kasubbid Psikologi PBSI Lilik Sudarwati, mental juara atlet pada saat pembibitan penting sekali untuk menciptakan karakter juara. Pembibitan saat ini pun masih bergantung pada klub-klub besar yang ada di Jawa. Keterbatasan akan fasilitas dan infrastruktur dijadikan alasan oleh PBSI.

Kegagalan tim Thomas dan tim Uber Indonesia beberapa waktu lalu membuat luka tersendiri bagi para mantan atlet bulu tangkis Indonesia. Karena itu, tergabung dalam Mantan Atlet Bulutangkis Nasional Lintas Generasi mereka menyampaiakan sebuah petisi kepada PB PBSI, Senin 28 Mei 2012. Liem Swie King, Rudy Hartono, dan Taufik Hidayat memimpin rekan-rekannya untuk menyatakan kekecewaan mereka atas prestasi Indonesia yang tak kunjung membaik.

Hal yang mereka soroti diantaranya mengenai kekompakan pemain, pemilihan pelatih asing, sampai penyalahgunaan wewenang di PBSI. Rudy Hartono mengatakan bahwa pertemuan ini bukan sebuah gerakan untuk mengambil alih PBSI, tetapi sebagai sebuah pengingat dan dorongan agar PBSI mau memperbaiki diri. Apalagi kegagalan bulutangkis Indonesia di kompetisi bergengsi bukan hanya satu kali ini saja. 

Inilah Tujuh Petisi Mantan Atlet Bulutangkis Nasional Lintas Generasi:
1.       Menuntut PB PBSI beranggung jawab dan melakukan eveluasi.
2.       Memperbaiki tumpang tindih (overlapping) kewenangan di tubuh PB PBSI.
3.       Fokus mempersiapkan atlet untuk Olimpiade London dengan sebaik-baiknya.
4.       Meninjau ulang keberadaan pelatih asing di Pelatnas.
5.       Menghimbau PBSI Provinsi untuk segera menyiapkan figur ketua umum PB PBSI yang kreatif.
6.       Menghimbau Dewan Pengawas lebih aktif mengkritisi PBSI Pusat dan PBSI Daerah.
7.       Menghimbau Bapak Presiden, Pemerintah, dan Komisi X DPR untuk lebih memperhatikan bulutangkis.

Semoga petisi ini bisa dijalankan dengan baik, dan dapat membawa Bulu Tangkis INDONESIA kea rah yang lebih membanggakan.

SEJARAH TERBURUK INDONESIA DALAM BULUTANGKIS


Indonesia mencatat sejarah terburuk dalam penampilannya di piala Thomas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Thomas Cup digelar pertama kali pada 1948, Indonesia yang pernah 13 kali juara dan 5 kali runner-up harus pulang lebih awal. Dengan koleksi gelar itu, Indonesia masih unggul lima kali dari tuan rumah China yang baru mengoleksi delapan gelar saja. Prestasi terburuk tim Thomas sebelumnya ialah tersinggir empat kali sebagai semifinalis pada 1990, 2004, 2006, dan 2008.

Tim Jepang lah yang menyingkirkan Simon Santoso dkk dengan skor 2-3. Dionysius Hayom Rumbaka yang turun sebagai pemain terakhir gagal mempersembahkan poin setelah tunduk 14-21, 19-21 kepada Takuma Ueda dalam waktu 52 menit. Hayom pun meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, karena ia tidak dapat meloloskan Indonesia ke semifinal. Manajer Tim Thomas-Uber Indonesia M. Feriansyah juga meminta maaf atas kelalahan Indonesia kali ini.

Mantan juara dunia tunggal putra Joko Suprianto menegaskan, kegagalan Indonesia di pentas Thomas-Uber Cup 2012 sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PB PBSI). Pemain tidak bisa disalahkan karena mereka merupakan produk dari sebuah kepengurusan. Joko mengungkapkan salah satu kesalahan PB PBSI ialah membiarkan banyaknya pemain titipan. Padalah kualitas para pemain titipan tersebut meragukan. Hal-hal seperti itu harus dipangkas. PBSI harus objektif dalam membina pemain. Pemerintah juga diharapkan membantu dengan membuat training camp di berbagai daerah dan memiliki fasilitas yang layak.

Kalau Joko menuding PBSI yang bertanggung jawab, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso justru menilai para pemain kurang agresif. Terkait dengan hasil yang mengecewakan itu, Djoko menegaskan akan mengeveluasi permainan tim secara keseluruhan. Berbeda dengan mantan atlet ganda putra Sigit Buadiarto, ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa kendati menyoroti lambatnya regenerasi dan kurangnya persiapan pemain sebagai faktor kekalahan.

Sejarah buruk bulu tangkis kali ini menjadi penegas bahwa kita memang tengah dibelit krisis, yakni krisis kepemimpinan dan regenerasi. Celakanya, para pemangku kepentingan bulu tangkis, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga, seperti tidak mengetahui, atau pura-pura tidak tahu, keadaan krisis  tersebut.
Mereka bekerja seperti biasa, seolah-olah tidak sedang terjadi apa-apa di bulu tangkis kita. Regenerasi pemain tidak dipersiapkan secara serius, bahkan kompetisi di berbagai daerah berlangsung tanpa greget. Alih-alih mengevaluasi mengapa kekalahan terburuk itu bisa terjadi, pucuk pimpinan bulu tangkis malah menyahkan pemain dengan menyebut mereka bertanding kurang motivasi.

Minggu, 06 Mei 2012

JADWAL PUTARAN FINA THOMAS &UBER CUP 2012


Berikut adalah jadwal lengkap Putaran Final Piala Thomas dan Uber 2012.




20 May 2012 : Grup stage day 1

12.00 WIB


* Court 1 (TV) : Uber Japan VS USA

* Court 2 (TV) : Thomas Korea VS USA
* Court 3 : Uber China VS South Africa
* Court 4 : Thomas Denmark VS South Africa

18.00 WIB


* Court 1 (TV) : Thomas China VS England

* Court 2 (TV) : Uber Korea VS Australia
* Court 3 : Thomas Japan VS New Zealand
* Court 4 : Uber Chinese Taipei VS Nedherlands

21 May 2012 : Grup stage day 2


12.00 WIB


* Court 1 (TV) : Uber Denmark VS USA

* Court 2 (TV) : Thomas Malaysia VS South Africa
* Court 3 : Uber Jerman VS Australia
* Court 4 : Thomas Jerman VS USA

18.00 WIB


* Court 1 (TV) : Thomas Indonesia VS England

* Court 2 (TV) : Uber Indonesia VS South Africa
* Court 3 : Thomas Rusia VS New Zealand
* Court 4 : Uber Thailand VS Nedherlands

22 May 2012 : Grup stage day 3


12.00 WIB


* Court 1 (TV) : Thomas Denmark VS Malaysia

* Court 2 (TV) : Uber Japan VS Denmark
* Court 3 : Thomas Korea VS Jerman
* Court 4 : Uber Korea VS Jerman

18.00 WIB


* Court 1 (TV) : Thomas China VS Indonesia

* Court 2 (TV) : Uber China VS Indonesia
* Court 3 : Thomas Japan VS Rusia
* Court 4 : Uber Chinese Taipei VS Thailand

23 May 2012 : Quarterfinals


24 May 2012 : Uber Cup Semifinals


25 May 2012 : Thomas Cup Semifinals


26 May 2012 : Uber Cup Finals


27 May 2012 : Thomas Cup Finals




Rabu, 02 Mei 2012

SEBUAH PERJUANGAN BESAR (Part 2)


Di televisi Susi menoleh ke Hakim Garis yang detik itu juga membentangkan kedua tangannya. OUT! Susi mengangkat raketnya tinggi-tinggi. Air mata langsung menetes di pipinya. Suara komentator di televise penuh emosi tak terbendung lagi…

“KELUAR! OUT… SAUDARA-SAUDARA! OUT!!! EMAS!!! EMAS!!1 SAUDARA-SAUDARA… SUSI MEREBUT MEDALI EMAS OLIMPIADE BARCELONA 1992! SUSI SUSANTI MEREBUT MEDALI EMAS! MEDALI EMAS PERTAMA UNTUK INDONESIA DI OLIMPIADE… ”
“YEAHHH!!!... YEAH!!!” Papa berteriak kegirangan, bangkit dari duduknya. Suara teriakan keras juga terdengar jelas dari seluruh tetangga. Papa mengeraskan volume televisi.

“Berakhir sudah! Penantian panjang itu… berakhir sudah…”

“HOREEE!!! SUSIII! INDONESIA!!!” Papa berteriak keras mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“IN…DO…NE…SIA…!!!”
“IN…DO…NE…SIA!!!” Gusni dan Mama ikut berteriak. Mama memeluk dan mencium-cium pipi Gisni, meluapkan kegembiraannya. Noda kue tart pindah ke pipi Mama. Di televisi Susi tersenyum lega.

“Penantian panjang itu berakhir sudah… Susi Susanti! Pahlawan Bangsa kelahiran Tasikmalaya 21 tahun yang lalu… pertandingan yang menakjubkan… pertandingan yang akan diingat oleh Bangsa Indonesia selamanya…”

“SUSI YES!!! SUSI… HEBAT!... SUSI… I LOVE YOU SUSI!!!” Papa terus berteriak-teriak kencang. Mama yang melihat kelakuan Papa tersenyum senang. Papa masih jejingkrakan ke sana kemari, mencium Gusni, mencium Mama, mencium Gita yang masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari televisi.

“Yeah! Yeah Yeah! Susi… Susi… Susi…” Gusnii ikut berteriak-teriak meloncat loncat seperti Papa. Tapi…

“Lho? Hahaha… lho? Mama mukanya kenapa?” Tiba-tiba Papa tertawa keeas melihat wajah Mama yang penuh krim kue tart. Mama jug atertawa melihat Papa.

“Lho, muka Papa juga kenapa? … Hahaha…”

Papa dan Mama melihat ke cermin, wajah mereka penuh dengan noda kue tart—pindahan dari pipi Gusni.

“Hahaha… Kak Gita juga ada tuh.” Gusni menunjuk Gita.

Papa dan Mama tertawa. Gita yang masih serius langsung berdiri dan melihat ke cermin. Senyum Gita langsung melebar.

“Huahaha… kayak Gusni semua!” Gusni girang, meloncat-loncat sambil menunjuk wajah Papa, Mama, dan Gita.

“Gara-gara ini nih… si gendut nih…” Papa meraih Gusni dan menggendong ke atas pundaknya. Mama dan Gita tertawa gembira.

“Susi Susanti, sebuah pertandingan emas! Emas Olimpiade pertama untuk Indonesia. IN…DO…NE…SIA! IN…DO…NE…SIA! Indonesia, walau hanya sebagian kecil yang menonton, nama Indonesia terus terdengar di Barcelona, sungguh membangggakan! Indonesia!”

“IN…DO…NE…SIA…!!! IN…DO…NE…SIA…!!!”

Papa berjoget keliling ruangan sambil menggendong Gusni di pundaknya. Si Gendut Gusni ikut berjoget-joget dan membentangkan tangannya.

“IN…DO…NE…SIA…!!! IN…DO…NE…SIA…!!!”

Mama bergabung dengan pawai kecil itu sambil memegangi pinggang Papa. Gita ikutan juga, memegangi pinggang Mama. Gusni bahagia sekali di atas gendongan Papa, sekilas pandangannya melirik ke televisi, melihat Susi Susanti yang berkalung bendera Merah Putih di pundaknya.

“IN…DO…NE…SIA…!!! IN…DO…NE…SIA…!!!”

Gusni mengedarkan pandangan ke sekitarnya, belum pernah ia merasakan sesuatu yang kuar biasa seperti ini. senyumnya mengembang melihat Susi Susanti di televisi, melihat Papa, Mama, dan Gita tersenyum bahagia. Gusni tersenyum memejamkan matanya, perlahan ia membuka mata dan…

Dalam penglihatannya ruang keluarganya berubah menjadi hamparan padang rumput indah dengan bunga warna-warni merah putih di sekelilingnya. Tidak ada warna lain, hanya merah dan putih. Masih dalam gendongan Papa, Gusni melihat Papa, Mama, dan Gita tersenyum padanya. Di padang rumput luas dan indah itu bunga merah putih setinggi pinggang tumbuh mengelilingi keluarga Gusni, dengan pawai kecilnya mereka menari gembira mengelilingi padang rumput dengan bunga merah putih. Gusni di atas pundak Papa menari sambil memegang dua buah bendera Merah Putih kecil. Iamerasa seperti Susi yang berkalung bendera Merah Putih di lehernya. Papa, Mama, dan Gita tersenyum padanya. Dari atas pundak Papa Gusni memandang padang rumput sekitarnya, ia sangat bahagia. Tapi tiba-tiba…

“Aduuh… aduh, Ma! Urat Papa ketarik! Urat Papa ketarik, Ma! Ambil Gusni, Ma! Cepetan, Ma! Berat, Ma!” Papa berteriak panik.

BRUUK! NGIK!

NGEK!

Terlambat.

Papa terjerembab jatuh di sofa… muka duluan NGEK!. Gusni yang besar menimpa punggungnya. Gusni kaget, padang rumput berubah jadi ruang keluarganya lagi. Mama, Gusni, dan Gita tidak bisa menahan tawa. Papa jatuh dengan wajah mencium sofa. Papa ikut tertawa meski masih memegang pundaknya yang sakit.

Kebahagiaan malam itu menaungi rumah kecil yang hangat malam itu, kebahagiaan yang juga dirasakan seluruh rakyat Indonesia di seluruh pelosok Nusantara.

“Indonesia Raya…
Merdeka… Merdeka…
Tanahku… Negeriku yang kucinta…”

Beberapa saat kemudian ruang keluarga menjadi hening. Hanya lagu Indonesia Raya yang terdengar jelas di televisi. Papa menatap penuh haru, dadanya seakan ingin meledak penuh dengan kebanggaan. Di layar televisi Susi menangis melihat bendera Merah Putih naik perlahan, Indonesia Raya berkumandang mengangkat Sang Saka tinggi di Barcelona. Perlahan Papa menaikkan tangannya dan ikut memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih. Gusni ikutan memberi hormatnya.

Mata Gita yang tajam seakan mengikuti bendera Merah Putih naik perlahan menuju puncak. Susi Susanti berdiri di sana sambil memegang medali emasnya menangis melihat Merah Putih naik menuju tiang tertinggi. Papa dan Mama mengatupkan bibirnya penuh haru dan tersenyum bahagia, Gusni ikut-ikutan terharu dan berkaca-kaca. Senyum Gusni mengembang, untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang ia tidak tahu apa namanya, selain hanya ingin terus tersenyum melihat kebahagiaan di tengah keluarganya. Hatinya berdesir. Suara tepuk tangan riuh mengakhiri perjalanan Merah Putih ke puncak tiang tertinggi. Susi Susanti menangis bahagia. Semuanya bertepuk tangan, suara tepuk tangan pun terdengar dari rumah tetangga. Malam ini malam yang indah untuk seluruh bangsa, sebuah mimpi telah selesai dan menjadi kenyataan.
--end--

(ini hanya sebagian isi novel 2 karya Donny Dirghantoro. novel ini bercerita tentang perjuangan dalam bulutangkis. para pecinta olahraga ini wajib baca. novelnya keren deh.)

Rabu, 25 April 2012

SEBUAH PERJUANGAN BESAR (Part 1)

Ada sebuah cerita  yang akan saya pos kan di sini, yang dikutip dari sebuah novel tentang bulutangkis karya Donny Dhirgantoro dengan judul novelnya 2. semoga Anda suka ^^.


Selayak malam beratapkan bintang, Indonesia cerah sekali malam itu, ribuan bintang menyebar indah. Tidak seperti biasanya jalanan Jakarta sedikit lengang, hanya satu-dua kendaraan yang lewat. Malam itu tidak cuma warga Jakarta, tetapi seluruh rakyat Indonesia sebangsa dan se-Tanah Air memilih berdiam di ruang keluarga dan duduk di depan televisi masing-masing malam ini.

“Saudara- saudara sebangsa dan se-Tanah Air…inilah saat-saat yang dinantikan seluruh Bangsa Indonesia. Dilaporkan langsung dari Olimpiade Barcelona 1992…”

Suara televisi terdengar keras dari sebuah rumah kecil di sudut Jakarta. Rumah mungil itu mempunyai halaman depan yang asri dengan sebuah pohon mangga di sudut halamannya, dari dalam rumah terdengar suara-suara aneh diselingi suara tawa anak kecil.

“IN…DO…NE…SIA…!”
Ngik…ngek…ngik…ngek…ngik..ngik
“IN…DO…NE…SIA…!”
“Hihihi… hihihi….”

“Apakah Susi berhasil merebut emas pertama bagi Indonesia di Olimpiae? Sebuah pencapaian besar di dunia olahraga untuk Indonesia…”

“IN…DO…NE…SIA…! IN…DO…NE…SIA…!”
Ngik…ngek…ngik…ngek…ngik..ngik…
            “Hihihi… hihihi….”

Suara komentator pertandingan diselingi suara tawa renyah dari rintihan per sofa tua yang sudah reyot. Tepat di atas sofa seorang anak perempuan gendut berusia enam tahun melonjak-lonjak seperti bola karet besar, rambutnya dukuncir dua, pipinya besar dan merah seperti dua buah apel. Ia memakai baju warna merah jambu, serasi sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Badannya besar dan bulat sempurna. Tangannya memegang kue tart, wajahnya yang penuh dengan pipinya sendiri juga penuh krim kue tart. Anak perempuan besar itu terus meloncat meniru gaya pemain bulutangkis di televisi.

“IN…DO…NE…SIA…!!! SMASH!!!”
NGIK!
Anak perempuan itu meloncat lagi.
“IN…DO…NE…SIA…!”
NGEK! Sofa tua itu merintih-rintih, ada makhluk mahabesar meloncat-loncat di atasnya. Sofa keberatan, keberatan dalam arti kalimat dan dalam arti sebenarnya. Tepat di depannya anggota keluarga lain sedang asyik menonton pertandingan bulutangkis di televise. Disbanding anggota keluarga lain yang berbadan kurus, anak perempuan bulat dan lincah itu terlihat unik sendiri membal-membal.

“Gusni… jangan loncat-loncat di atas sofa Nak, nanti sofanya rusak…” Mama memperingatkan Gusni lagi asyik loncat-loncat. Mama menggelengkan kepalanya, seperti ada kulkas kecil merah jambu loncat-loncat di atas sofa.

“Sofanya lucu,… bisa bunyi-bunyi, Ma…,” jawan Gusni tidak peduli. Rambutnya yang dikuncir dua ikut meloncat-loncat riang. Muka yang isinya pipi semua juga ikutan ndul-ndulan elastis.

“Gusni….” Mama melirik memintanya berhenti. Gusni berhenti sebentar. Nyengir ke Mama lalu meloncat-loncat lagi sambil masih terus makan kue, tangan dan wajahnya belepotan.

“Papa! Gusni tuh….nggak nurut sama Mama,” Mama mengeluh ke Papa yang terlihat tegang menonton pertandingan di televisi. Papa hanya diam, Mama mendengus sebel. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun duduk bersila di depan Papa, dekat sekali dengan televisi. Matanya yang tajam tidak lepas mengikuti jalannya pertandingan.

“Lagi-lagi pindah bola, Saudara-saudara… Susi masih menyisakan tenaga untuk melawan Bang Soo Hyun. Susi serve… pengembalian bola yang bagus… kembali lob-lob panjang dari Susi…”

Komentator begitu bersemangat melaporkan pertandingan. Ruang tengah rumah mungil itu diliputi ketegangan yang belum juga berakhir, helaan napas jelas terdengar tegang.

“Ayo SMASH! SUSI!” Papa berteriak penuh semangat.
“Ayo CMASH SUSI!” Gusni ikut berteriak mengikuti Papa meloncat tinggi di atas sofa, NGEK! Kasihan sofanya.

Papa dan Mama geleng-geleng melihat kelakuan Gusni.
“BRISIIIK…!” Gita yang sedang serius menonton televisi menoleh cepat ke belakang membentak adiknya.

“BBBRRRRRWWWWEEEE….” Gusni langsung membalas mencibirkam bibirnya tapi Gita melotot marah melihat Gusni, melotot kesal dibals dengan cibiran bibir lagi. Gita melotot kesal dan melanjutkan menonton, Papa Mama bertatapan geli.

“Susi tampak begitu sabar melayani lob-lob panjang, pertandingan yang sangat menegangkan Saudara-Saudara…”

Ketegangan terus berlanjut di seluruh Nusantara melihat pertandingan di televisi.

“Ayo Susiii…! Kamu bisa… “IN…DO…NE…SIA!”
“IN…DO…NE…SIA…!!!” Papa berteriak-teriak penuh semangat.

Gusni dengan senangnya ikut berteriak. “IN…DO…NE…SIA…! IN…DO…NE…SIA…! Gita lagi-lagi menoleh sesaat kebelakang, sebel melihat kelakuan Gusni. Papa dan Gusni ketawa cekikikan melihat Gita.

“IN…DO…NE…SIA…!” NGIK.
“IN…DO…NE…SIA…!” NGEK.

Gusni tambah semangat, berteriak sambil meloncat-loncat.

“Pemirsa di seluruh Nusantara! Sekali lagi inilah saatnya… pindah bola untuk Susi… apabila Susi Susanti berhasil meraih poin  maka bangsa ini akan mendapat medali emas pertama di olimpiade…sesuatu yang sudah kita tunggu hampir 35 tahun lamanya…”

Papa dan Gita menarik nafas panjang mendengar komentar pertandingan. Mama ikutan tegang. Sofa tua bernafas lega, rintihannya sudah tidak terdengar. Gusni sudah tidak meloncat-loncat lagi, ia duduk di samping Papa dan Mama, memperhatikan pertandingan dengan serius.

“Susi serve… lob dari Bang Soo Hyun… backhand Susi… dikembalikan lagi oleh Bang Soo Hyun.. drop shot lagi dari Susi!!!”

“AYO! SUSIII!!!”
Papa sampai hampir terlonjak dari duduknya saking tegangnya. Gita kaget dan menoleh ke Papa galak. Papa nyengir. Gusni mencibir lagi ke Gita.

“Masih bisa dikembalikan oleh Bang Soo Hyun… Susi mengajak rally lagi… drop shot Susi… masih bisa Bang Soo Hyun… mereka main bola-bola pendek sekarang… saudara-saudara sangat menegangkan… sangat menengangkan…”

Semua yang ada di ruang tamu menahan nafas, pertandingan final bulutangkis ini sangat menegangkan. Bukan hanya di rumah mungil ini, mungkin saat itu seluruh rakyat Indonesia diliputi ketegangan. Pertandingan yang akan berbuah emas pertama dari Olimpiade untuk Indonesia, hanya tinggal beberapa saat lagi jika Susi Susanti bisa memenangkannya. Untuk pertama kalinya Gusni melupakan kuenya yang masih ada di tangannya. Ia ikut terbawa ketegangan.

Beberapa kali Mama dan Gusni menutup wajahnya, pertandingan bulutangkis memang bisa sangat menegangkan, kok bulu angsa itu terbang ke sana kemari dengan cepatnya, semuanya akan berakhir begitu saja saat kok jatuh, kemenangan atau kekalahan semuanya hanya dalam hitungan detik. Papa beranjak ke depan televise, bersila di samping Gita. Mama memeluk Gusni, dengan mata yang tak berkedip menatap kok yang mesih berpindah-pindah dengan cepat. Susi Susanti terlihat sangat lelah, tetapi malam itu dari Sabang sampai Merauke tidak ada yang menyangsikan semangat Susi bertanding malam itu.

“… Bang Soo Hyun mengajak bermain bola-bola pendek lagi… bisa dikembalikan oleh Susi… bola tinggi… drop shot dari Bang Soo Hyun di depan net… dan jatuh dilapangan permainan Susi… SAUDARA-SAUDARA!!! OUT! KELUAR! OUT!!!”

Dan…

(Bersambung...)

nantikan kelanjutan ceritanya.