Maria

Maria
.......

Minggu, 06 Mei 2012

Jadwal Putaran Final Piala Thomas dan Uber Cup 2012


Berikut adalah jadwal lengkap Putaran Final Piala Thomas dan Uber 2012.



20 May 2012 : Grup stage day 1

12.00 WIB

* Court 1 (TV) : Uber Japan VS USA
* Court 2 (TV) : Thomas Korea VS USA
* Court 3 : Uber China VS South Africa
* Court 4 : Thomas Denmark VS South Africa

18.00 WIB

* Court 1 (TV) : Thomas China VS England
* Court 2 (TV) : Uber Korea VS Australia
* Court 3 : Thomas Japan VS New Zealand
* Court 4 : Uber Chinese Taipei VS Nedherlands

21 May 2012 : Grup stage day 2

12.00 WIB

* Court 1 (TV) : Uber Denmark VS USA
* Court 2 (TV) : Thomas Malaysia VS South Africa
* Court 3 : Uber Jerman VS Australia
* Court 4 : Thomas Jerman VS USA

18.00 WIB

* Court 1 (TV) : Thomas Indonesia VS England
* Court 2 (TV) : Uber Indonesia VS South Africa
* Court 3 : Thomas Rusia VS New Zealand
* Court 4 : Uber Thailand VS Nedherlands

22 May 2012 : Grup stage day 3

12.00 WIB

* Court 1 (TV) : Thomas Denmark VS Malaysia
* Court 2 (TV) : Uber Japan VS Denmark
* Court 3 : Thomas Korea VS Jerman
* Court 4 : Uber Korea VS Jerman

18.00 WIB

* Court 1 (TV) : Thomas China VS Indonesia
* Court 2 (TV) : Uber China VS Indonesia
* Court 3 : Thomas Japan VS Rusia
* Court 4 : Uber Chinese Taipei VS Thailand

23 May 2012 : Quarterfinals

24 May 2012 : Uber Cup Semifinals

25 May 2012 : Thomas Cup Semifinals

26 May 2012 : Uber Cup Finals

27 May 2012 : Thomas Cup Finals


oleh Eka Febrianti

(@ekarahmanf)


Rabu, 02 Mei 2012

Sebuah Perjuangan Besar (Part 2)



Di televisi Susi menoleh ke Hakim Garis yang detik itu juga membentangkan kedua tangannya. OUT! Susi mengangkat raketnya tinggi-tinggi. Air mata langsung menetes di pipinya. Suara komentator di televise penuh emosi tak terbendung lagi…

“KELUAR! OUT… SAUDARA-SAUDARA! OUT!!! EMAS!!! EMAS!!1 SAUDARA-SAUDARA… SUSI MEREBUT MEDALI EMAS OLIMPIADE BARCELONA 1992! SUSI SUSANTI MEREBUT MEDALI EMAS! MEDALI EMAS PERTAMA UNTUK INDONESIA DI OLIMPIADE… ”
“YEAHHH!!!... YEAH!!!” Papa berteriak kegirangan, bangkit dari duduknya. Suara teriakan keras juga terdengar jelas dari seluruh tetangga. Papa mengeraskan volume televisi.

“Berakhir sudah! Penantian panjang itu… berakhir sudah…”

“HOREEE!!! SUSIII! INDONESIA!!!” Papa berteriak keras mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

“IN…DO…NE…SIA…!!!”
“IN…DO…NE…SIA!!!” Gusni dan Mama ikut berteriak. Mama memeluk dan mencium-cium pipi Gisni, meluapkan kegembiraannya. Noda kue tart pindah ke pipi Mama. Di televisi Susi tersenyum lega.

“Penantian panjang itu berakhir sudah… Susi Susanti! Pahlawan Bangsa kelahiran Tasikmalaya 21 tahun yang lalu… pertandingan yang menakjubkan… pertandingan yang akan diingat oleh Bangsa Indonesia selamanya…”

“SUSI YES!!! SUSI… HEBAT!... SUSI… I LOVE YOU SUSI!!!” Papa terus berteriak-teriak kencang. Mama yang melihat kelakuan Papa tersenyum senang. Papa masih jejingkrakan ke sana kemari, mencium Gusni, mencium Mama, mencium Gita yang masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari televisi.

“Yeah! Yeah Yeah! Susi… Susi… Susi…” Gusnii ikut berteriak-teriak meloncat loncat seperti Papa. Tapi…

“Lho? Hahaha… lho? Mama mukanya kenapa?” Tiba-tiba Papa tertawa keeas melihat wajah Mama yang penuh krim kue tart. Mama jug atertawa melihat Papa.

“Lho, muka Papa juga kenapa? … Hahaha…”

Papa dan Mama melihat ke cermin, wajah mereka penuh dengan noda kue tart—pindahan dari pipi Gusni.

“Hahaha… Kak Gita juga ada tuh.” Gusni menunjuk Gita.

Papa dan Mama tertawa. Gita yang masih serius langsung berdiri dan melihat ke cermin. Senyum Gita langsung melebar.

“Huahaha… kayak Gusni semua!” Gusni girang, meloncat-loncat sambil menunjuk wajah Papa, Mama, dan Gita.

“Gara-gara ini nih… si gendut nih…” Papa meraih Gusni dan menggendong ke atas pundaknya. Mama dan Gita tertawa gembira.

“Susi Susanti, sebuah pertandingan emas! Emas Olimpiade pertama untuk Indonesia. IN…DO…NE…SIA! IN…DO…NE…SIA! Indonesia, walau hanya sebagian kecil yang menonton, nama Indonesia terus terdengar di Barcelona, sungguh membangggakan! Indonesia!”

“IN…DO…NE…SIA…!!! IN…DO…NE…SIA…!!!”

Papa berjoget keliling ruangan sambil menggendong Gusni di pundaknya. Si Gendut Gusni ikut berjoget-joget dan membentangkan tangannya.

“IN…DO…NE…SIA…!!! IN…DO…NE…SIA…!!!”

Mama bergabung dengan pawai kecil itu sambil memegangi pinggang Papa. Gita ikutan juga, memegangi pinggang Mama. Gusni bahagia sekali di atas gendongan Papa, sekilas pandangannya melirik ke televisi, melihat Susi Susanti yang berkalung bendera Merah Putih di pundaknya.

“IN…DO…NE…SIA…!!! IN…DO…NE…SIA…!!!”

Gusni mengedarkan pandangan ke sekitarnya, belum pernah ia merasakan sesuatu yang kuar biasa seperti ini. senyumnya mengembang melihat Susi Susanti di televisi, melihat Papa, Mama, dan Gita tersenyum bahagia. Gusni tersenyum memejamkan matanya, perlahan ia membuka mata dan…

Dalam penglihatannya ruang keluarganya berubah menjadi hamparan padang rumput indah dengan bunga warna-warni merah putih di sekelilingnya. Tidak ada warna lain, hanya merah dan putih. Masih dalam gendongan Papa, Gusni melihat Papa, Mama, dan Gita tersenyum padanya. Di padang rumput luas dan indah itu bunga merah putih setinggi pinggang tumbuh mengelilingi keluarga Gusni, dengan pawai kecilnya mereka menari gembira mengelilingi padang rumput dengan bunga merah putih. Gusni di atas pundak Papa menari sambil memegang dua buah bendera Merah Putih kecil. Iamerasa seperti Susi yang berkalung bendera Merah Putih di lehernya. Papa, Mama, dan Gita tersenyum padanya. Dari atas pundak Papa Gusni memandang padang rumput sekitarnya, ia sangat bahagia. Tapi tiba-tiba…

“Aduuh… aduh, Ma! Urat Papa ketarik! Urat Papa ketarik, Ma! Ambil Gusni, Ma! Cepetan, Ma! Berat, Ma!” Papa berteriak panik.

BRUUK! NGIK!

NGEK!

Terlambat.

Papa terjerembab jatuh di sofa… muka duluan NGEK!. Gusni yang besar menimpa punggungnya. Gusni kaget, padang rumput berubah jadi ruang keluarganya lagi. Mama, Gusni, dan Gita tidak bisa menahan tawa. Papa jatuh dengan wajah mencium sofa. Papa ikut tertawa meski masih memegang pundaknya yang sakit.

Kebahagiaan malam itu menaungi rumah kecil yang hangat malam itu, kebahagiaan yang juga dirasakan seluruh rakyat Indonesia di seluruh pelosok Nusantara.

“Indonesia Raya…
Merdeka… Merdeka…
Tanahku… Negeriku yang kucinta…”

Beberapa saat kemudian ruang keluarga menjadi hening. Hanya lagu Indonesia Raya yang terdengar jelas di televisi. Papa menatap penuh haru, dadanya seakan ingin meledak penuh dengan kebanggaan. Di layar televisi Susi menangis melihat bendera Merah Putih naik perlahan, Indonesia Raya berkumandang mengangkat Sang Saka tinggi di Barcelona. Perlahan Papa menaikkan tangannya dan ikut memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih. Gusni ikutan memberi hormatnya.

Mata Gita yang tajam seakan mengikuti bendera Merah Putih naik perlahan menuju puncak. Susi Susanti berdiri di sana sambil memegang medali emasnya menangis melihat Merah Putih naik menuju tiang tertinggi. Papa dan Mama mengatupkan bibirnya penuh haru dan tersenyum bahagia, Gusni ikut-ikutan terharu dan berkaca-kaca. Senyum Gusni mengembang, untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang ia tidak tahu apa namanya, selain hanya ingin terus tersenyum melihat kebahagiaan di tengah keluarganya. Hatinya berdesir. Suara tepuk tangan riuh mengakhiri perjalanan Merah Putih ke puncak tiang tertinggi. Susi Susanti menangis bahagia. Semuanya bertepuk tangan, suara tepuk tangan pun terdengar dari rumah tetangga. Malam ini malam yang indah untuk seluruh bangsa, sebuah mimpi telah selesai dan menjadi kenyataan.
--end--

(ini hanya sebagian isi novel 2 karya Donny Dirghantoro. novel ini bercerita tentang perjuangan dalam bulutangkis. para pecinta olahraga ini wajib baca. novelnya keren deh.)

oleh Eka Febrianti
@ekarahmanf

Rabu, 25 April 2012

Sebuah Perjuangan Besar (Part 1)

Ada sebuah cerita  yang akan saya pos kan di sini, yang dikutip dari sebuah novel tentang bulutangkis karya Donny Dhirgantoro dengan judul novelnya 2. semoga Anda suka ^^.


Selayak malam beratapkan bintang, Indonesia cerah sekali malam itu, ribuan bintang menyebar indah. Tidak seperti biasanya jalanan Jakarta sedikit lengang, hanya satu-dua kendaraan yang lewat. Malam itu tidak cuma warga Jakarta, tetapi seluruh rakyat Indonesia sebangsa dan se-Tanah Air memilih berdiam di ruang keluarga dan duduk di depan televisi masing-masing malam ini.

“Saudara- saudara sebangsa dan se-Tanah Air…inilah saat-saat yang dinantikan seluruh Bangsa Indonesia. Dilaporkan langsung dari Olimpiade Barcelona 1992…”

Suara televisi terdengar keras dari sebuah rumah kecil di sudut Jakarta. Rumah mungil itu mempunyai halaman depan yang asri dengan sebuah pohon mangga di sudut halamannya, dari dalam rumah terdengar suara-suara aneh diselingi suara tawa anak kecil.

“IN…DO…NE…SIA…!”
Ngik…ngek…ngik…ngek…ngik..ngik
“IN…DO…NE…SIA…!”
“Hihihi… hihihi….”

“Apakah Susi berhasil merebut emas pertama bagi Indonesia di Olimpiae? Sebuah pencapaian besar di dunia olahraga untuk Indonesia…”

“IN…DO…NE…SIA…! IN…DO…NE…SIA…!”
Ngik…ngek…ngik…ngek…ngik..ngik…
            “Hihihi… hihihi….”

Suara komentator pertandingan diselingi suara tawa renyah dari rintihan per sofa tua yang sudah reyot. Tepat di atas sofa seorang anak perempuan gendut berusia enam tahun melonjak-lonjak seperti bola karet besar, rambutnya dukuncir dua, pipinya besar dan merah seperti dua buah apel. Ia memakai baju warna merah jambu, serasi sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Badannya besar dan bulat sempurna. Tangannya memegang kue tart, wajahnya yang penuh dengan pipinya sendiri juga penuh krim kue tart. Anak perempuan besar itu terus meloncat meniru gaya pemain bulutangkis di televisi.

“IN…DO…NE…SIA…!!! SMASH!!!”
NGIK!
Anak perempuan itu meloncat lagi.
“IN…DO…NE…SIA…!”
NGEK! Sofa tua itu merintih-rintih, ada makhluk mahabesar meloncat-loncat di atasnya. Sofa keberatan, keberatan dalam arti kalimat dan dalam arti sebenarnya. Tepat di depannya anggota keluarga lain sedang asyik menonton pertandingan bulutangkis di televise. Disbanding anggota keluarga lain yang berbadan kurus, anak perempuan bulat dan lincah itu terlihat unik sendiri membal-membal.

“Gusni… jangan loncat-loncat di atas sofa Nak, nanti sofanya rusak…” Mama memperingatkan Gusni lagi asyik loncat-loncat. Mama menggelengkan kepalanya, seperti ada kulkas kecil merah jambu loncat-loncat di atas sofa.

“Sofanya lucu,… bisa bunyi-bunyi, Ma…,” jawan Gusni tidak peduli. Rambutnya yang dikuncir dua ikut meloncat-loncat riang. Muka yang isinya pipi semua juga ikutan ndul-ndulan elastis.

“Gusni….” Mama melirik memintanya berhenti. Gusni berhenti sebentar. Nyengir ke Mama lalu meloncat-loncat lagi sambil masih terus makan kue, tangan dan wajahnya belepotan.

“Papa! Gusni tuh….nggak nurut sama Mama,” Mama mengeluh ke Papa yang terlihat tegang menonton pertandingan di televisi. Papa hanya diam, Mama mendengus sebel. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun duduk bersila di depan Papa, dekat sekali dengan televisi. Matanya yang tajam tidak lepas mengikuti jalannya pertandingan.

“Lagi-lagi pindah bola, Saudara-saudara… Susi masih menyisakan tenaga untuk melawan Bang Soo Hyun. Susi serve… pengembalian bola yang bagus… kembali lob-lob panjang dari Susi…”

Komentator begitu bersemangat melaporkan pertandingan. Ruang tengah rumah mungil itu diliputi ketegangan yang belum juga berakhir, helaan napas jelas terdengar tegang.

“Ayo SMASH! SUSI!” Papa berteriak penuh semangat.
“Ayo CMASH SUSI!” Gusni ikut berteriak mengikuti Papa meloncat tinggi di atas sofa, NGEK! Kasihan sofanya.

Papa dan Mama geleng-geleng melihat kelakuan Gusni.
“BRISIIIK…!” Gita yang sedang serius menonton televisi menoleh cepat ke belakang membentak adiknya.

“BBBRRRRRWWWWEEEE….” Gusni langsung membalas mencibirkam bibirnya tapi Gita melotot marah melihat Gusni, melotot kesal dibals dengan cibiran bibir lagi. Gita melotot kesal dan melanjutkan menonton, Papa Mama bertatapan geli.

“Susi tampak begitu sabar melayani lob-lob panjang, pertandingan yang sangat menegangkan Saudara-Saudara…”

Ketegangan terus berlanjut di seluruh Nusantara melihat pertandingan di televisi.

“Ayo Susiii…! Kamu bisa… “IN…DO…NE…SIA!”
“IN…DO…NE…SIA…!!!” Papa berteriak-teriak penuh semangat.

Gusni dengan senangnya ikut berteriak. “IN…DO…NE…SIA…! IN…DO…NE…SIA…! Gita lagi-lagi menoleh sesaat kebelakang, sebel melihat kelakuan Gusni. Papa dan Gusni ketawa cekikikan melihat Gita.

“IN…DO…NE…SIA…!” NGIK.
“IN…DO…NE…SIA…!” NGEK.

Gusni tambah semangat, berteriak sambil meloncat-loncat.

“Pemirsa di seluruh Nusantara! Sekali lagi inilah saatnya… pindah bola untuk Susi… apabila Susi Susanti berhasil meraih poin  maka bangsa ini akan mendapat medali emas pertama di olimpiade…sesuatu yang sudah kita tunggu hampir 35 tahun lamanya…”

Papa dan Gita menarik nafas panjang mendengar komentar pertandingan. Mama ikutan tegang. Sofa tua bernafas lega, rintihannya sudah tidak terdengar. Gusni sudah tidak meloncat-loncat lagi, ia duduk di samping Papa dan Mama, memperhatikan pertandingan dengan serius.

“Susi serve… lob dari Bang Soo Hyun… backhand Susi… dikembalikan lagi oleh Bang Soo Hyun.. drop shot lagi dari Susi!!!”

“AYO! SUSIII!!!”
Papa sampai hampir terlonjak dari duduknya saking tegangnya. Gita kaget dan menoleh ke Papa galak. Papa nyengir. Gusni mencibir lagi ke Gita.

“Masih bisa dikembalikan oleh Bang Soo Hyun… Susi mengajak rally lagi… drop shot Susi… masih bisa Bang Soo Hyun… mereka main bola-bola pendek sekarang… saudara-saudara sangat menegangkan… sangat menengangkan…”

Semua yang ada di ruang tamu menahan nafas, pertandingan final bulutangkis ini sangat menegangkan. Bukan hanya di rumah mungil ini, mungkin saat itu seluruh rakyat Indonesia diliputi ketegangan. Pertandingan yang akan berbuah emas pertama dari Olimpiade untuk Indonesia, hanya tinggal beberapa saat lagi jika Susi Susanti bisa memenangkannya. Untuk pertama kalinya Gusni melupakan kuenya yang masih ada di tangannya. Ia ikut terbawa ketegangan.

Beberapa kali Mama dan Gusni menutup wajahnya, pertandingan bulutangkis memang bisa sangat menegangkan, kok bulu angsa itu terbang ke sana kemari dengan cepatnya, semuanya akan berakhir begitu saja saat kok jatuh, kemenangan atau kekalahan semuanya hanya dalam hitungan detik. Papa beranjak ke depan televise, bersila di samping Gita. Mama memeluk Gusni, dengan mata yang tak berkedip menatap kok yang mesih berpindah-pindah dengan cepat. Susi Susanti terlihat sangat lelah, tetapi malam itu dari Sabang sampai Merauke tidak ada yang menyangsikan semangat Susi bertanding malam itu.

“… Bang Soo Hyun mengajak bermain bola-bola pendek lagi… bisa dikembalikan oleh Susi… bola tinggi… drop shot dari Bang Soo Hyun di depan net… dan jatuh dilapangan permainan Susi… SAUDARA-SAUDARA!!! OUT! KELUAR! OUT!!!”

Dan…

(Bersambung...)

nantikan kelanjutan ceritanya.

oleh Eka Febrianti
(@ekarahmanf)

Senin, 23 April 2012

Maria Kristin Yulianti


Maria Kristin Yulianti. Siapa yang tak kenal dengan  atlet bulu tangkis Indonesia yang satu  ini. Wanita kelahiran Tuban, 25 Juni 1985 ini mengawali kariernya sebagai pemain tunggal putri dengan bermain di PB Djarum. Awalnya Maria sempat gagal masuk PB Djarum karena ditolak, namun tahun berikutnya, ia berhasil masuk PB Djarum. Dengan semangat dan keahlian yang dimilikinya, Maria Kristin masuk ke Final Turnamen Nasional. Dan akhirnya gadis berparas manis ini dilirik oleh PBSI hingga ia ditarik masuk ke Pelatnas Cipayung.


Ditahun 2007, namanya semakin dikenal, karena mengalahkan Adriyanti Firdasari di Final Women’s Single SEA Games 2007 dan  menghantarkan Indonesia menjadi Peraih Medali Emas Beregu Putri SEA Games 2007. Pertama kali saya melihat Maria Kristin pada waktu perhelatan Thomas dan Uber Cup sedang berlangsung. Sosok Maria Kristin yang manis dan kalem begitu membius mata saya. Dengan senyuman khas yang dimilikinya saya yakin banyak sekali masyarakat Indonesia yang mengidolakannya. Dan yang paling saya ingat, saat Maria Kristin tampil di Uber cup, rambut Maria Kristin selalu tampak indah dengan beragam model kuncir yang ia gunakan. Ia semakin terlihat cantik, berbeda dengan lawannya yang membiarkan rambutnya (tidak menata rambutnya dengan rapi).


Prestasi yang dimiliki Maria Kristin sangat banyak, diantaranya menjadi Runner-Up Uber Cup di Jakarta pada tahun 2008 yang lalu, Semi Final (Peraih Perunggu) Olimpiade Beijing (2008), Perempat Final Yonex Japan Super Series (2008), Perempat Final Chinese Taipei GPG, Perempat Final French Super Series (2008), Semi Final Sudirman Cup di Guangzhou, China (2009), Perempat Final Djarum Indonesia Open Super Series (2010), Perempat Final Vietnam Grand Prix (2010), Runner-Up White Night (2011).



Kini nama Maria Kristin mulai redup. Cedera yang berkepanjangan membuat prestasinya merosot dan kini kembali ke klubnya PB Djarum selepas dari Pelatnas Cipayung. Selepas hilangnya Maria Kristin, prestasi Tunggal Putri di Indonesia mulai melorot. Akhir-akhir ini, Tunggal putri Indonesia tidak ada yang bisa masuk 16 besar. PBSI bahkam berpikir realistis, Emas Olimpiade yang selalu diraih Indonesia, di tahun depan terancam. Tunggal putrid pun tidak akan dikirim.

Semoga Maria Kristin Yulianti segera lepas dari cedera yang selalu mengikutinya, dan bisa mengulang prestasi yang telah diraihnya, bahkan  melebihi apa yang telah ia capai. Apapun yang terjadi pada dirimu, Sobat Maria akan melalu mendukungmu.



oleh Eka Febrianti
(@ekarahmanf)
(maaf ya kalau kurang menarik ^^)

Minggu, 26 Februari 2012

Lampu Kuning Bulutangkis Indonesia

powered by

Indonesia tak boleh lagi menyebut sebagai salah satu poros bulutangkis dunia. Kekuatan pebulutangkis Merah Putih tak lagi kukuh. Saat ini, menghadapi negara level bawah pun, duta Indonesia bisa tersandung.

INDONESIA gagal total di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2011. Tak ada duta Merah Putih yang meraih trofi juara dalam even di London, Inggris, pada 8–14 Agustus lalu itu. Jangankan juara, lolos ke final pun, pebulutangkis Merah Putih tak bisa. Hasil terbaik diukir pasangan muda ganda putra M. Ahsan/Bona Septano dan Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir yang terhenti di semifinal. Padahal, jika berdasar unggulan BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia), Indonesia harus bisa menempatkan satu wakilnya di final melalui Tontowi/Liliyana Natsir karena menempati unggulan kedua.

Di semifinal, duta Merah Putih pun seharusnya diwakili Taufik Hidayat di nomor tunggal putra. Sayang, juara dunia 2005 tersebut tumbang di babak kedua. Ironisnya, dia kalah dari pebulu tangkis Singapura Derek Wong Zi Liang (Singapura) 17-21, 14-21 pada babak kedua. Untuk pebulu tangkis selevel Taufik, yang juga pernah meraih emas pada Olimpiade Athena 2004, kalah di babak kedua –apalagi dari pebulu tangkis Singa pura– tentu cukup mengejutkan. Tetapi, harus disadari, kemampuan Taufik memang sudah menurun seiring usianya yang juga terus bertambah.

Namun, sebenarnya bukan hanya Singapura, wakil dari dunia III di pentas bulutangkis juga banyak membuat kejutan. Selain Taufik, dua tunggal Indonesia mengalami hal serupa, yakni Dyonisius Hayom Rumbaka di tunggal putra dan Adriyanti Firdasari di tunggal putri. Hayom, sapaan karib Dyonisius Hayom Rumbaka, dipermalukan wakil Finlandia Ville Lang pada babak pertama. Kemudian, Firda, sapaan karib Adriyanti Firdasari, takluk oleh Chloe Magee dari Irlandia.

Sebenarnya, pebulutangkis tunggal putra Indonesia lainnya, Lindaweni Fanetri, juga kalah oleh wakil dari dunia III, yakni Jerman. Tetapi, yang menghentikan langkahnya adalah Juliane Schenk yang diunggulkan di posisi kesembilan. ”Ini membuktikan bahwa kekuatan dunia bulu tangkis di dunia sudah menyebar dengan baik. Jadi, tidak lagi didominasi negara-negara tertentu saja,” kata Sekjen PB PBSI Yacob Rusdianto.

Bahkan, tambah dia, bukan hanya pebulu tangkis Indonesia yang harus merasakan pahitnya takluk dari wakil dunia III. Tiongkok mengalami hal serupa. ”Unggulan kelima tunggal putra dari Tiongkok Chen Long tersingkir oleh Kevin Cordon asal Guatemala. Padahal, siapa yang menyangka negara seperti Guatemala bisa menang dari pebulu tangkis Tiongkok,” ungkapnya.

Yacob pun berharap pebulutangkis Indonesia selalu waspada menghadapi pebulutangkis tanpa melihat asal negaranya. Berubahnya peta kekuatan bulutangkis itu juga tak lepas dari regenerasi yang dilakukan negara-negara lain. Saat Indonesia masih mengandalkan Taufik, di negara lain muncul bibit yang kualitasnya mulai matang sekarang.
 
Dari:
http://www.beritabulutangkis.blogspot.com/2012/01/indonesia-telat-regenerasi-atlet.html